RSS

Arsip Bulanan: Februari 2009

Ahlan wa Sahlan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

tesSelamat datang saudara-saudari di situs pribadi tiang niki. Sebuah tempat tiang untuk membuang suntuk dan kegelisahan di pulau orang dikala kesepian dan memikirkan kampung halaman. Selamat berkunjung saudara-saudari senamian nikmatilah apa adanya coz cuma ini yang masih tiang bisa. Selamat menikmati !!!

Akhir kata dari tiang, mohon maaf yang sebesar-besarnya lek saudara-saudari sekalian jika ada yang menyinggung atau ada kekurangan dalam tampilan ini karena inilah tiayang yang masih banyak kekurangan dan kekhilafan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 26/02/2009 in Home

 

Contact Gue di

E-mail : hamdi.skm@gmail.com atau ham_matc@yahoo.co.id

Nomor HP : 081905098165

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 26/02/2009 in Kontak

 

Semaraknya Dunia Perdukunan (Paranormal)

Gejala lari ke dukun, paranormal atau “orang pintar” kini semakin mengakar kuat di setiap lini masyarakat. Entah berapa banyak pejabat, pengusaha, kalangan profesional, intelektual dan rakyat biasa telah menjadi konsumen atau pelanggan jasa perdukunan. Mereka kian gencar beriklan tentang kemampuan dan kesaktiannya yang disertai gelar dan nama yang aneh, berbau magis dan terkadang nyeleneh. Mengapa dunia perdukunan semakin subur ? ironisnya ini terjadi di masyarakat yang mengaku religius dan agamis.

Maraknya perdukunan disebabkan oleh :

1. Lemahnya iman dan kerungnya pemahaman agama

Lemahnya iman (kurangnya keyakinan bahwa Allah adalah tempat meminta segala keperluan) adalah faktor utama bagi seseorang untuk mencari alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Meminta pertolongan kepada allah dengan sabar dan sholat merupakan solusi Islami dan tepat untuk menyelesaikan masalah. Sebagaimana firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

2. Membungkus dunia perdukunan

“Kami tak melakukan apa-apa, hanya berdo’a kepada allah, dan atas ridhaNyalah do’a kami itu terkabul”, tutur seorang paranormal di sebuah media. Ungkapan di atas dan semisalnya adalah ucapan klise yang sering keluar dari mulut paranormal/dukun. Mereka berlindung di balik kata “do’a” dan nama “Allah” untuk mengelabui orang dan meyakinkan bahwa kemampuan yang dimilikinya itu adalah pemberian dari allah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Untuk membantah subhat (keracunan) ini, perhatikanlah firman Allah :

“Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan (izzah) Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya’.” (QS. Shad: 82)

Iblis makhluk yang telah nyata kekafirannya kepada Allah (Al-Baqarah: 24) menggunakan sifat Allah (Al-Izzah) dalam bersumpah. Maka bukan suatu hal aneh jika mereka menggunakan nama Allah, membaca (potongan) ayat-ayat Al-Qur’an sebagai mantra. Penggunaan simbol-simbol agama bukan ukuran kebenaran. Bukankah iblis yang menggunakan sifat Allah ketika bersumpah tidak menjadi pembenaran bahwa ia sesungguhnya tidak sesat dan menyesatkan. Selain itu, mereka mengatakan bahwa ilmu yang diberikan berdasarkan pada agama (Al-Qur’an). Tapi pada saat yang sama, mereka juga memberikan syarat, azimat dan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an atau tidak diajarkan oleh Al-Qur’an.

3. Animisme, dinamisme, sinkretisme

Kepercayaan masyarakat yang suka mistik adalah sisa-sisa pengaruh dari ajaran animisme (kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami semua benda), dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia), dan ajaran Hindu (tentang roh dan dewa-dewi). Menurut Dr. Simuh, termasuk budaya sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran berbagai agama untuk mencari penyelesaian. (Prof. Kusnaka Adimihardja)

Pergi ke Dukun/Paranormal

Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, ada di antaranya yang sudah diketahui dan ada pula yang belum. Berobat yang sesuai syari’at dibolehkan menurut kesepakatan ulama. Tidak dibolehkan mendatangi dukun/paranormal yang mengaku mengetahui hal-hal gaib, untuk mengetahui penyakit yang diderita dan atau kebutuhan lainnya.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda :

“Barangsiapa datang ke kahin (dukun), dan percaya pada apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud)

Allah berfirman :

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu.” (QS. Al-Jin: 26)

Para dukun/paranormal tidak mempunyai “kelebihan” melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin. Kungkung (berendam) di pertemuan dua sungai, tapa (mediasi) di gua-gua, puasa (yang tidak ada syari’atnya), menyembelih hewan dengan kriteria tertentu adalah bentuk dari penyembahan jin. Pengobatan alternatif, pengisian ilmu kesaktian, susuk, azimat, wafak, pengasihan dan lainnya dalam prakteknya banyak menggunakan jin dan setan. Setiap praktek dukun/paranormal yang menggunakan syarat, mahar, perantara dan mantera pantas dicurigai. Lewat syarat itulah, apakah namanya susuk atau azimat, jin masuk dengan cara yang disadari atau tidak disadari.

“Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaq.” (QS. Al-Jin: 6). Arti rahaq menurut Qatadah ialah dosa dan menambah keberanian bagi jin pada manusia. Rahaq juga berarti ketakutan (Abul Aliah, Ar-Rabi’, dan Zaid bin Aslam). Ketika jin tahu manusia meminta perlindungan karena takut pada mereka, maka jin menambahkan rasa takut dan gelisah agar manusia semakin tambah takut dan selalu meminta perlindungan kepada mereka. (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, 4/453).

Oleh : Asri Ibnu Tsani

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 23/02/2009 in Catatan

 

Pendiri NWDI, NBDI dan NW bersama penerusnya

 
3 Komentar

Posted by pada 16/02/2009 in Gallery

 

Kenang-kenangan ketika di MA NW Pancor Selong Lotim NTB

 
9 Komentar

Posted by pada 16/02/2009 in Gallery

 

Outbond TPA Al Inayah di Taman Pancasila UNY

 
3 Komentar

Posted by pada 16/02/2009 in Gallery

 

Saya ma temen-temen di Taman Pintar Yogya

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 16/02/2009 in Gallery

 

Saya dan Temen-temen di MASKAM UGM

 
1 Komentar

Posted by pada 15/02/2009 in Gallery

 

Menghapus Tradisi Valentine Day

valentine2 Begitu masuk bulan Februari, sebagian kalangan, khususnya anak-anak muda dan remaja merasakan perlu mempersiapkan sesuatu yang istimewa. Ya, apalagi kalau bukan untuk hari kasih sayang kata mereka. Sebagian mereka, biar lebih keren katanya, menyebutnya Valentine Day. Menurut Rizki Ridyasmara (2005:23) sejak era 1980-an perayaan Hari Valentine ini semakin memperlihatkan kemeriahan. Bentuk-bentuk kemeriahan itu seperti, banyaknya toko yang menjual beragam souvenir berupa kartu ucapan dan kado bertema Valentine Day, dekorasi ruangan dengan warna-warna pink dan biru lembut, hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita dimana-mana.

Sejarah Valentine Day

Ada banyak versi cerita tentang asal-muasal tradisi Valentine Day. Diantaranya, yang paling popular, ialah kisah Santo Valentinus yang dipercaya hidup di masa Kaisar Claudius II yang kemudian meninggal dunia pada tanggal 14 Februari 269 M. ini menurut salah satu versi saja. Namun yang pasti, memang banyak legenda, mitos dan penyembahan berhala dalam tradisi paganisme Romawi Kuno dimana Valentine Day salah satunya.

Di Roma Kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia (ini merujuk pada nama salah satu dewa bernama Lupercus, dewa kesuburan). Dewa ini digambarkan sebagai seorang laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Pada masa itu, tiap tanggal 15 Februari para pendeta melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan berlari-lari di jalan-jalan di kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, dan puncaknya pada tanggal 15 Februari. Dua hari sebelumnya (13-14Februari) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) benama Juno Februate. Pada hari itu, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Maka gadis yang namanya keluar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda pemilihnya. Keesokan harinya (tanggal 15 Februari) mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercus dari gangguan srigala. Selama berlangsung upacara, para lelaki melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para gadis malah berebut mendapat lecutan karena percaya dengannya akan bertambah cantik dan subur. Ketika agama Kristen Katolik memasuki Roma, upacara paganisme (penyembahan berhala) diadopsi dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Pada tahun 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.

Menyikapi Tradisi Valentine Day

Bagi umat Islam, setelah demikian jelas bahwa tradisi ini berasal dari tradisi yang sarat dengan kesyirikan berupa penyembahan berhala dan erat kaitannya dengan sistem kepercayaan Kristiani, maka tidak perlu ikut-ikutan (latah) merayakan Valentine Day. Apalagi, meski mengatas-namakan cinta dan kasih sayang, moralitas dan akhlaq pergaulan khususnya laki-laki dan perempuan di kalangan anak muda dan remaja menjadi rusak karenanya. Maka jangan sampai umat Islam terpedaya oleh propaganda kata cinta dan kasih sayang yang dilakukan oleh banyak pihak untuk menjual hari ini (14 Februari) hanya untuk mendapatkan keuntungan uang sebanyak-banyaknya. Bahkan, ketika kaum muslimin menganggap ini merupakan hal yang biasa, maka mereka telah mengabaikan nilai-nilai kesyirikan, meniru bidaya kaum kafir dan kebobrokan moral di dalamnya. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka mereka termasuk kaum itu juga.” Kita, umat Islam, memiliki tauhi, ibadah kepada Allah dan kemuliaan akhlaq, dan tidak terbatas hanya di satu hari saja tapi setiap hari!

oleh : Ust. Sigit Yulianta, ST.,M.Si.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15/02/2009 in Catatan

 

Outbond Bersama Santri TPA Al Inayah

Outbond TPA di Taman Pancasila UNY

Outbond TPA di Taman Pancasila UNY

Ustadz dan santri saat outbond

Ustadz dan santri saat outbond

Ustadz dan santri saat outbond

Ustadz dan santri saat outbond

Santri TPA Al Inayah bersama Ustadzah

Santri TPA Al Inayah bersama Ustadzah

Santri TPA Al Inayah bersama Ustadz

Santri TPA Al Inayah bersama Ustadz

 
2 Komentar

Posted by pada 15/02/2009 in Gallery

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.