RSS

Tanda-tanda Lemahnya Iman dan Cara Mengatasinya

15 Feb

Keimanan manusia tidak seperti malaikat, pun juga seperti iblis la’natullah. Keimanan Manusia selalu dinamis, naik dan turun, sebagaimana sabda nabi Muhammad, “Al imanu yajiidu wa yanqus, jadiidu” yang artinya iman itu kadang naik dan kadang turun, maka perbaharuilah selalu iman itu.

Berikut Tanda-tanda Lemahnya Iman seseorang :

1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah.

2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an.

3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat.

4. Meninggalkan sunnah.

5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah.

6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukuman-Nya dan janji-janji-Nya tentang kabar baik.

7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah.

8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah.

9. Menginginkan jabatan dan kekayaan.

10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah.

11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.

12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya.

13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh.

14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid.

15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin.

16. Tidak merasa bertanggungjawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam.

17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan.

18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti.

19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupan duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan.

20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri.

Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.

2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagungan-Nya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.

3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.

4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majelis-majelis seperti itu. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinu.

5. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.

6. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubur, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.

7. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.

8. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.

9. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.

10. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

Sumber : http://www.Taushiyah.online.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15/02/2009 in Catatan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: