RSS

Menghapus Tradisi Valentine Day

15 Feb

valentine2 Begitu masuk bulan Februari, sebagian kalangan, khususnya anak-anak muda dan remaja merasakan perlu mempersiapkan sesuatu yang istimewa. Ya, apalagi kalau bukan untuk hari kasih sayang kata mereka. Sebagian mereka, biar lebih keren katanya, menyebutnya Valentine Day. Menurut Rizki Ridyasmara (2005:23) sejak era 1980-an perayaan Hari Valentine ini semakin memperlihatkan kemeriahan. Bentuk-bentuk kemeriahan itu seperti, banyaknya toko yang menjual beragam souvenir berupa kartu ucapan dan kado bertema Valentine Day, dekorasi ruangan dengan warna-warna pink dan biru lembut, hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita dimana-mana.

Sejarah Valentine Day

Ada banyak versi cerita tentang asal-muasal tradisi Valentine Day. Diantaranya, yang paling popular, ialah kisah Santo Valentinus yang dipercaya hidup di masa Kaisar Claudius II yang kemudian meninggal dunia pada tanggal 14 Februari 269 M. ini menurut salah satu versi saja. Namun yang pasti, memang banyak legenda, mitos dan penyembahan berhala dalam tradisi paganisme Romawi Kuno dimana Valentine Day salah satunya.

Di Roma Kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia (ini merujuk pada nama salah satu dewa bernama Lupercus, dewa kesuburan). Dewa ini digambarkan sebagai seorang laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Pada masa itu, tiap tanggal 15 Februari para pendeta melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan berlari-lari di jalan-jalan di kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, dan puncaknya pada tanggal 15 Februari. Dua hari sebelumnya (13-14Februari) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) benama Juno Februate. Pada hari itu, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Maka gadis yang namanya keluar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda pemilihnya. Keesokan harinya (tanggal 15 Februari) mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercus dari gangguan srigala. Selama berlangsung upacara, para lelaki melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para gadis malah berebut mendapat lecutan karena percaya dengannya akan bertambah cantik dan subur. Ketika agama Kristen Katolik memasuki Roma, upacara paganisme (penyembahan berhala) diadopsi dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Pada tahun 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.

Menyikapi Tradisi Valentine Day

Bagi umat Islam, setelah demikian jelas bahwa tradisi ini berasal dari tradisi yang sarat dengan kesyirikan berupa penyembahan berhala dan erat kaitannya dengan sistem kepercayaan Kristiani, maka tidak perlu ikut-ikutan (latah) merayakan Valentine Day. Apalagi, meski mengatas-namakan cinta dan kasih sayang, moralitas dan akhlaq pergaulan khususnya laki-laki dan perempuan di kalangan anak muda dan remaja menjadi rusak karenanya. Maka jangan sampai umat Islam terpedaya oleh propaganda kata cinta dan kasih sayang yang dilakukan oleh banyak pihak untuk menjual hari ini (14 Februari) hanya untuk mendapatkan keuntungan uang sebanyak-banyaknya. Bahkan, ketika kaum muslimin menganggap ini merupakan hal yang biasa, maka mereka telah mengabaikan nilai-nilai kesyirikan, meniru bidaya kaum kafir dan kebobrokan moral di dalamnya. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka mereka termasuk kaum itu juga.” Kita, umat Islam, memiliki tauhi, ibadah kepada Allah dan kemuliaan akhlaq, dan tidak terbatas hanya di satu hari saja tapi setiap hari!

oleh : Ust. Sigit Yulianta, ST.,M.Si.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15/02/2009 in Catatan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: