RSS

Semaraknya Dunia Perdukunan (Paranormal)

23 Feb

Gejala lari ke dukun, paranormal atau “orang pintar” kini semakin mengakar kuat di setiap lini masyarakat. Entah berapa banyak pejabat, pengusaha, kalangan profesional, intelektual dan rakyat biasa telah menjadi konsumen atau pelanggan jasa perdukunan. Mereka kian gencar beriklan tentang kemampuan dan kesaktiannya yang disertai gelar dan nama yang aneh, berbau magis dan terkadang nyeleneh. Mengapa dunia perdukunan semakin subur ? ironisnya ini terjadi di masyarakat yang mengaku religius dan agamis.

Maraknya perdukunan disebabkan oleh :

1. Lemahnya iman dan kerungnya pemahaman agama

Lemahnya iman (kurangnya keyakinan bahwa Allah adalah tempat meminta segala keperluan) adalah faktor utama bagi seseorang untuk mencari alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Meminta pertolongan kepada allah dengan sabar dan sholat merupakan solusi Islami dan tepat untuk menyelesaikan masalah. Sebagaimana firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

2. Membungkus dunia perdukunan

“Kami tak melakukan apa-apa, hanya berdo’a kepada allah, dan atas ridhaNyalah do’a kami itu terkabul”, tutur seorang paranormal di sebuah media. Ungkapan di atas dan semisalnya adalah ucapan klise yang sering keluar dari mulut paranormal/dukun. Mereka berlindung di balik kata “do’a” dan nama “Allah” untuk mengelabui orang dan meyakinkan bahwa kemampuan yang dimilikinya itu adalah pemberian dari allah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Untuk membantah subhat (keracunan) ini, perhatikanlah firman Allah :

“Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan (izzah) Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya’.” (QS. Shad: 82)

Iblis makhluk yang telah nyata kekafirannya kepada Allah (Al-Baqarah: 24) menggunakan sifat Allah (Al-Izzah) dalam bersumpah. Maka bukan suatu hal aneh jika mereka menggunakan nama Allah, membaca (potongan) ayat-ayat Al-Qur’an sebagai mantra. Penggunaan simbol-simbol agama bukan ukuran kebenaran. Bukankah iblis yang menggunakan sifat Allah ketika bersumpah tidak menjadi pembenaran bahwa ia sesungguhnya tidak sesat dan menyesatkan. Selain itu, mereka mengatakan bahwa ilmu yang diberikan berdasarkan pada agama (Al-Qur’an). Tapi pada saat yang sama, mereka juga memberikan syarat, azimat dan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an atau tidak diajarkan oleh Al-Qur’an.

3. Animisme, dinamisme, sinkretisme

Kepercayaan masyarakat yang suka mistik adalah sisa-sisa pengaruh dari ajaran animisme (kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami semua benda), dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia), dan ajaran Hindu (tentang roh dan dewa-dewi). Menurut Dr. Simuh, termasuk budaya sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran berbagai agama untuk mencari penyelesaian. (Prof. Kusnaka Adimihardja)

Pergi ke Dukun/Paranormal

Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, ada di antaranya yang sudah diketahui dan ada pula yang belum. Berobat yang sesuai syari’at dibolehkan menurut kesepakatan ulama. Tidak dibolehkan mendatangi dukun/paranormal yang mengaku mengetahui hal-hal gaib, untuk mengetahui penyakit yang diderita dan atau kebutuhan lainnya.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda :

“Barangsiapa datang ke kahin (dukun), dan percaya pada apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud)

Allah berfirman :

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu.” (QS. Al-Jin: 26)

Para dukun/paranormal tidak mempunyai “kelebihan” melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin. Kungkung (berendam) di pertemuan dua sungai, tapa (mediasi) di gua-gua, puasa (yang tidak ada syari’atnya), menyembelih hewan dengan kriteria tertentu adalah bentuk dari penyembahan jin. Pengobatan alternatif, pengisian ilmu kesaktian, susuk, azimat, wafak, pengasihan dan lainnya dalam prakteknya banyak menggunakan jin dan setan. Setiap praktek dukun/paranormal yang menggunakan syarat, mahar, perantara dan mantera pantas dicurigai. Lewat syarat itulah, apakah namanya susuk atau azimat, jin masuk dengan cara yang disadari atau tidak disadari.

“Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaq.” (QS. Al-Jin: 6). Arti rahaq menurut Qatadah ialah dosa dan menambah keberanian bagi jin pada manusia. Rahaq juga berarti ketakutan (Abul Aliah, Ar-Rabi’, dan Zaid bin Aslam). Ketika jin tahu manusia meminta perlindungan karena takut pada mereka, maka jin menambahkan rasa takut dan gelisah agar manusia semakin tambah takut dan selalu meminta perlindungan kepada mereka. (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, 4/453).

Oleh : Asri Ibnu Tsani

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23/02/2009 in Catatan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: